Sebagai
wujud yang memahami fenomena di sekitarnya melalui indera dan menetapkan
untuknya tempat dan waktu, manusia cenderung menganggap segala sesuatu dalam
bentuk wujud yang dapat diindera. Manusia yang akrab dengan materi dan indera
bahkan menganggap Tuhan sebagai wujud inderawi dan jisim materi yang dibungkus
daging, dialiri darah, terbentuk dalam susunan tulang dan memiliki anggota
badan.Dalam termonilogi Islam, kelompok yang menyematkan kriteria jisim kepada Allah disebut dengan nama kelompok Musyabbihah yang berarti kelompok yang menganggap Tuhan seperti makhluk.
Ada
pula kelompok yang tidak terang-terangan menyebut Tuhan berjisim namun tidak
menafikan kejisiman Tuhan. Mereka secara lahiriyah berpegangan pada lahiriah
ayat-ayat suci al-Quran dan riwayat dari Nabi Saw dengan menafikan penalaran
dan logika dalam memahami teks agama. Mereka beralasan bahwa al-Quran turun
untuk dibaca bukan untuk dinalar. Padahal, banyak sekali ayat al-Quran yang
menyeru manusia untuk berpikir dan merenung. Misalnya di ayat 24 surat Muhammad
Allah Swt berfirman, "Maka
apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?"
Juga firman Allah Swt di ayat 29 surat Shad yang artinya, "Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai fikiran."
Ibnu
Taimiyyah, pendiri aliran Salafi menyebut sifat jisim bagi Allah Swt dengan
bersandar pada zahir sejumlah ayat suci al-Quran. Dalam menjelaskan
pandangannya secara terang-terangan dia menyebut Allah memiliki kaki, tangan dan lainnya. Akan tetapi untuk menghindari
tudingan menyematkan sifat-sifat materi bagi Allah, dia mengatakan bahwa
tangan, kaki wajah dan lainnya yang dimiliki Allah berbeda dengan yang ada pada
manusia. Meski demikian dia tetap tidak bisa lari dari pandangan penyamaan
Allah dengan lahiriyah manusia. dengan kata lain, pandangan Ibnu Taimiyyah
hanya menimbulkan kebingungan akan sifat-sifat Allah. Dia mengatakan,
"Allah memiliki tangan tapi tidak seperti tangan yang kita fahami, tapi
tangan yang layak bagi-Nya." Jika demikian, berarti tangan yang dia sebut
bukanlah anggota tubuh dengan memiliki kriteria yang dipahami dalam makna
tangan.
Penyamaan
Allah dengan jisim disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam bukunya, "Arsyu Rahman wa maa warada
fiihi minal Ayat wal Ahadits". Misalnya ayat 67 surat az-Zumar
menyebutkan bahwa seluruh bumi ada dalam genggaman Allah di Hari Kiamat. Makna
genggaman bisa difahami dengan kekuasaan penuh atas sesuatu seperti yang biasa
diungkapkan dalam percakapan sehari-hari. Permisalan ayat tadi adalah kinayah atau
pinjaman kata untuk menunjukkan kekuasaan penuh Allah atas alam semesta. Akan
tetapi dalam bukunya, Ibnu Taimiyyah saat menafsirkan ayat tadi hanya memahami
makna zahir dari kata genggaman sehingga menyatakan bahwa Allah memiliki tangan
yang menggenggam.
Dia
mengatakan, di Hari Kiamat bumi berada di tangan Allah dan dilemparkan seperti seorang
anak melemparkan bola ke atas. Sayangnya pemahaman menyimpang dari ayat-ayat
al-Quran seperti ini banyak ditemukan dalam pernyataan kelompok Salafi. Dengan
menurunkan derajat Ilahiyah ke level alam materi, mereka telah mempermainkan
keagungan Allah.
Secara
faktual, Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab dan
para pengikut mereka adalah orang-orang berpemikiran dangkal yang hanya
memahami teks agama secara lahiriyah semata. Mereka jauh dari nalar dan tauhid
yang murni. Kelompok Wahhabi benar-benar asing dari tauhid murni yang diajarkan
Nabi dan para pengikut beliau yang saleh yang menerima penalaran dan
argumentasi yang benar. Nabi dan para pengikutnya menerima tauhid ini dengan
sepenuh jiwa dan menyesuaikan kehidupan mereka dengan poros tauhid.
Yang
menarik, meski hanya berpegangan pada dhahir ayat-ayat al-Quran, kaum Wahhabi
menyebut diri mereka sebagai pembela dan pengamal tauhid yang sejati. Untuk itu
mereka menganggap kelompok lainnya sebagai kafir yang musyrik. Ibnu Taimiyyah
mengakui bahwa di dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi tidak ada ungkapan tentang
kejisiman Allah. Namun, katanya, tidak ada penafian soal ini. Karena itu, dia
mengatakan bahwa Allah adalah wujud yang berjisim.
Mengenai
kejisiman Allah, Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa Allah duduk di atas singgasana
yang disebut ‘Arasy.
Menurutnya, Allah tertawa, berjalan dan bahkan berlari. Dalam buku Risalah
Himawiyyah, Ibnu Taimiyyah menuturkan, "Tuhan bisa tertawa. Dan di
Hari Kiamat kelak Dia tertawa dalam keadaan menunjukkan diri-Nya kepada para
hamba-Nya." Padahal di ayat 103 surat al-An'am disebutkan bahwa Allah
tidak bisa dilihat oleh siapapun. "Mata
tak melihat-Nya dan Dia menyaksikan semua penglihatan dan Dia Maha Lembut lagi
Maha Mengetahui." Dalam sebuah riwayat Imam Ali as berkata,
"Allah adalah Sesembahan yang seluruh makhluk tertegun terhadap-Nya dan
merindukan-Nya. Allah adalah wujud yang tersembunyi dari semua mata dan
terlindung dari pemikiran akan akal manusia."
Al-Quran
al-Karim dengan tegas menafikan kejisiman Allah. Hal ini juga dinyatakan dalam
banyak hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlussunnah terkait penafsiran
surat al-Ikhlas. Hakim Naisyaburi meriwayatkan dari Ubay bin Kaab bahwa suatu
hari kaum Musyrik Mekkah meminta Rasulullah Saw untuk menyebutkan silsilah nasab
Allah Swt. Maka turunlah surat al-Ikhlas yang menyebutkan, "Katakanlah (Wahai Muhammad)
Allah Maha Esa. Allah Maha Kaya (yang mutlak tidak memerlukan apapun). Dia
tidak melahirkan dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada
sesuatupun yang menyamaiNya." Meski ada ayat-ayat seperti ini,
orang-orang seperti Ibnu Taimiyyah tetap menyebut kejisiman untuk Allah Swt.
Baihaqi,
ulama besar hadis saat menyatakan penolakan terhadap penyematan sifat jisim
bagi Allah membawakan kata-kata Ahmad bin Hanbal yang mengatakan, "Para
ahli bahasa menyebut jisim sebagai ungkapan untuk sesuatu yang memiliki
panjang, lebar, ketinggian dan susunan serta bentuk. Sementara Allah Maha Suci
dari semua itu. Tidak benar jika kita menyematkan sifat jisim bagi Allah. Sebab
Dia terlepas semua kriteria dan pemahaman makna jisim. Dalam syariat juga tidak
ada kata yang menunjuk ke arah sana. Karena itu penisbatan jisim bagi Allah
adalah pendapat yang salah." Yang menarik kata-kata itu diucapkan oleh
Ahmad bin Hanbal sementara Ibnu Taimiyyah mengaku sebagai pengikut mazhab
Hanbali.
Sepanjang
hidupnya Ibnu Taimiyyah menulis banyak buku untuk menjelaskan ajaran dan
pemikirannya. Banyak pemikiran dan fatwanya yang bertentangan dengan seluruh
ulama, khususnya mengenai Allah dan sifat-sifat-Nya. Dia dan para pengikutnya
meyakini bahwa Allah bersifat seperti apa yang difirmankan-Nya secara zahir
ayat al-Quran. Dia menolak takwil ayat-ayat itu sehingga terjebak dalam
pemikiran yang menyamakan Allah dengan jisim dan bersifat terbatas. Dia bahkan
mengatakan bahwa Allah bertempat di suatu tempat tertentu.
Ibnu
Taimiyyah dan muridnya yang bernama Ibnu Qayyim Jauzi mengatakan, sebelum
terciptanya alam semesta Allah berada di antara awan tebal, tanpa ada udara di
atas maupun di bawahnya. Sementara saat itu tidak ada satupun makhluk di alam
semesta. Menurutnya, ‘Arasy atau
singgasana Allah berada di atas air.
Kata-kata
itu mengandung kontradiksi yang fatal. Sebab, dari satu sisi dia mengatakan
saat itu belum ada satupun makhluk tapi di sisi lain dia mengatakan Allah
berada di antara awan yang tebal. Padahal, awan adalah satu makhluk ciptaan
Allah. Karena itu sulit untuk memahami bagaimana mungkin awan sudah ada sebelum
Allah mencipta? Bagaimana mungkin seorang muslim yang mengerti akan ajaran
Islam bisa mempercayai kata-kata yang mengesankan Allah laksana satu makhluk
lemah yang terperangkap di antara awan tebal yang menyelimuti-Nya? Islam
menyatakan bahwa tidak ada suatu apapun yang meliputi Allah. Dialah yang
meliputi segala sesuatu, dan bukan diliputi. Ungkapan pemikiran ini jelas
bertentangan dengan ajaran Islam yang hakiki.
Kaum
Wahhabi juga meyakini bahwa Allah berada di suatu tempat dan arah tertentu.
Selain meyakini Allah sebagai wujud berjisim dengan kriteria perilaku jasmani,
mereka juga berbicara tentang tempat Allah di atas langit. Dalam kitab Minhaj
al-Sunnah, Ibnu Taimiyyah mengatakan, "Udara ada di atas bumi. Awan
berada di atas udara Langit di atas awan dan bumi. ‘Arasy ada di atas semua langit, dan
Allah ada di atas semua itu." Ibnu Taimiyyah dengan esktrim menyatakan,
"Siapa saja yang mengatakan bahwa Allah bisa dilihat tapi tak memahami
arah ketinggian bagi-Nya berarti secara logika kata-katanya tidak benar."
Coba
perhatikan kata-kata itu dengan firman Allah di dalam al-Quran yang dengan
tegas dan jelas menyebutkan, "Timur
dan Barat adalah milik Allah. kemana saja engkau menghadap maka di sanalah
Allah. Allah Maha Kaya lagi Maha Mengetahui." (Q.S.
al-Baqarah: 115).
Di
surat as-Sajdah ayat 4 Allah Swt juga berfirman,"Lalu Dia bersemayam atas
‘Arasy." Ayat 5 surat Thaha menyebutkan,"Ar-Rahman berkuasa atas ‘Arsy".
Sedangkan di ayat 4 surat al-Hadid disebutkan,"Lalu dia berada di atas singgasana dan
memerintahkan apa yang turun ke bumi." Ayat-ayat ini dimaknai
oleh Wahhabi dengan makna lahiriyahnya sehingga mereka mengatakan bahwa Allah
berada di atas singgasana dengan kebesaran dan kelayakan penguasa yang
terkadang penyifatan ini lebih mirip dengan lelucon. Mereka mengatakan pula
bahwa Allah punya berat yang sangat besar dan duduk di atas singgasana-Nya. Ibnu
Taimiyyah yang pemikirannya merupakan rujukan utama ajaran Salafi dan Wahhabi
mengklaim bahwa dari semua arah, Allah lebih besar seukuran empat jari-Nya dari
singgasana-Nya. Dia mengatakan, "Allah Swt ada di atas singgasana dan ‘Arasy Ilahi
berbentuk seperti kubah di atas langit. Karena beratnya Allah, ‘Arasy itu
mengeluarkan bunyi."
Ibnu
Qayyim dan para ulama Wahhabi tidak pernah merasa sungkan untuk berbicara
tentang Allah dengan gambaran yang mengingatkan kita pada khayalan anak-anak.
Mereka mengatakan, ‘Arasy
Ilahi memiliki ketebalan yang ukurannya sama dengan jarak antara dua langit..
Menurut mereka di langit ketujuh terdapat hamparan lautan yang luas. Semua itu
mereka ucapkan tanpa ada dasar atau penjelasan dari ayat al-Quran maupun hadis
Nabi maupun riwayat dari para sahabat.
Salah
satu sifat Allah adalah Maha Kaya dan tidak memerlukan sesuatu apapun. Hal itu
ditegaskan dalam banyak ayat suci al-Quran diantaranya surat al-Baqarah ayat
267,"Allah
Maha Kaya lagi Maha Terpuji". Sifat ini dikenalkan sendiri
oleh Allah Swt dalam firman-firmannya dan melalui pendekatan logika, kita bisa
memahami makna ketidak-butuhan Allah kepada yang lain. kitab suci al-Quran
mengajak kita untuk menggunakan akal dan nalar. Dalam banyak kesempatan kitab
suci ini menyeru mereka yang mengingkari kebenaran untuk membawakan bukti yang
bisa mendukung klaim mereka.
Bersemayamnya
Allah di atas ‘Arasy
seperti disebutkan secara harfiyah oleh sejumlah ayat al-Quran adalah kinayah atau
kiasan mengenai kekuasaan Allah yang mengatur alam semesta ini. Dengan kata
lain, manajerial alam semesta ada di tangan-Nya. Ayat-ayat tadi menyatakan
bahwa alam semesta berjalan dengan kehendak Allah dan Dialah yang mengatur
segala sesuatunya baik yang ada di langit maupun yang ada di bumi. Semuanya tunduk
pada aturan dan ketentuan Ilahi. Karena itulah Allah mengenalkan diri-Nya
dengan nama Rabb yang mengandung arti Tuhan yang mengatur alam.
Sayangnya,
meski akal bisa menalar dan mencarikan penyelesaian untuk memahami ayat-ayat
seperti ini, kaum Salafi dan Wahhabi justeru melangkah di jalan yang lain.
Mereka menyebut ‘Arasy
tak ubahnya bagai singgasana tempat para penguasa duduk dengan kebesarannya.
Pengartian ‘Arasy
seperti ini jelas bertentangan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam dan aturan
logika. Mereka mengatakan bahwa Allah duduk di atas singgasana yang sangat
besar yang dipikul oleh delapan makhluk dengan tubuh raksasa di lautan yang
terhampar di atas langit ketujuh. Mereka juga mengatakan bahwa singgasana Ilahi
disangga oleh beberapa pilar yang jika salah satunya tidak ada maka arasy
akan ambruk dan jatuh ke bumi.
Amirul
Mukminin Ali bin Abi Thalib as yang oleh Nabi Saw disebut dengan gelar pintu
kota ilmu mengatakan, "Allah menciptakan ‘Arasy untuk menunjukkan
kekuasaan-Nya bukan untuk duduk di atasnya."
Ibnu
Taimiyyah, pendiri aliran Salafi memiliki pandangan yang bertentangan dengan
keyakinan umat Islam umumnya dalam masalah tauhid. Salah satunya adalah
pandangan yang ia paparkan berkenaan dengan naik turunnya Allah di antara di
antara tujuh lapis langit. Dalam kitab Minjahus Sunnah, Ibnu Taimiyyah
menulis, setiap malam, Allah turun ke langit bumi dan di malam arafah. Dia
turun lebih dekat lagi ke bumi untuk mengabulkan permintaan hamba-hamba-Nya. Sesampainya
di langit bumi, Allah berfirman, "Adakah orang yang memohon kepadaKu untuk
Aku kabulkan permintaannya?"
Kaum
Salafi juga membayangkan adanya bermacam kursi dan singgasana milik Allah.
dalam kitab Majmu al-Fatawa karya Ibnu Qayyim Jauzi, murid dan pengikut
setia Ibnu Taimiyyah disebutkan, "Di setiap langit Allah memiliki kursi.
Ketika sampai di langit dunia, Allah duduk di atas kursi yang khusus dan
berfirman, "Adakah orang yang memohon ampunan untuk Aku beri
ampunan?" Allah berada di sana setiap malam sampai subuh. Ketika fajar
tiba, Dia akan meninggalkan langit bumi dan naik ke atas untuk duduk di atas
kursi-Nya yang lain."
Ibnu
Batutah, pengembara terkenal Muslim asal negeri Maroko dalam catatan
perjalanannya menceritakan satu kisah menarik tentang Ibnu Taimiyyah. Dia
bercerita, "Aku pernah melihat Ibnu Taimiyyah di masjid Jami kota Damaskus
saat ia memberi wejangan kepada masyarakat. Dia berkata, "Allah Swt turun
ke langit bumi seperti saya turun sekarang ini." Ibnu Taimiyyah lalu turun
satu anak tangga dari mimbarnya. Kata-kata itu diprotes oleh Ibnu Zahra, ulama
dan faqih mazhab Maliki yang hadir di majlis itu. Akan tetapi kebanyakan
masyarakat yang polos dan percaya dengan kata-kata Ibnu Taimiyyah justeru
menyerang dan memukuli Ibnu Zahra. Hakim dari mazhab Hanbali juga menghukum
Ibnu Zahra. Tindakan hakim tersebut ditentang keras oleh para fukaha dan hakim
dari kalangan mazhab Syafi'i dan Maliki di Damaskus. Kasus ini lantas dibawa ke
hadapan penguasa Damaskus yang lalu memerintahkan untuk memenjarakan Ibnu
Taimiyyah."
Dengan
menetapkan gerak gerik bagi Allah, Ibnu Taimiyyah menyamakan Allah dengan wujud
materi yang perlu turun ke langit untuk bisa menjalin hubungan dengan hamba-Nya
lalu kembali ke tempat-Nya yang tinggi. Padahal gerakan hanya identik dengan
wujud alam materi. Sementara, untuk bisa mendengar doa dan kata-kata hamba-Nya
dan menganbulkan permintaan mereka, Allah Swt sama sekali tidak perlu turun ke
langit. Ayat 16 surat Qaf menegaskan bahwa Allah lebih dekat kepada
hamba-hamba-Nya dari urat nadi mereka. Di surat al-Baqarah ayat 115, ditegaskan
bahwa ke manapun kalian menghadap di situlah Allah. Ayat ini menjelaskan bahwa
Allah meliputi semua tempat, dan mendengar rintihan dan suara hamba-Nya tanpa
perlu bergerak ke sana kemari. Sebab, Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.
Sifat kekuasaan dan ilmu Allah disebutkan dalam banyak ayat suci al-Quran.
Ibnu
Taimiyyah berkhayal bahwa Allah Swt duduk di atas sebuah singgasana megah lalu
membayangkan adanya tempat duduk lain di sisi-Nya yang diperuntukkan bagi Nabi
Muhammad Saw. Padahal Nabi dengan segala kebesaran dan keagungannya merasa
bangga dengan menjadi hamba Allah. Ayat 110 surat al-Kahf menyebutkan, "Katakanlah,
sesungguhnya aku adalah manusia seperti kalian (dengan kelebihan) memperoleh
wahyu bahwa Tuhan kalian adalah Tuhan yang Maha Esa."
Ibnu
Taimiyyah dan Ibnu Qayyim menyamakan Allah dengan raja-raja di bumi. Dalam
kitab Majmu al-Fatawa disebutkan, "Di hari Jumat dari hari-hari di
akhirat, Allah turun dari ‘Arasy lalu duduk di atas kursi. Kursi Allah
berada di antara mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, tempat para nabi
duduk. Mimbar-mimbar itu dikelilingi oleh kursi-kursi yang terbuat dari emas
yang diperuntukkan bagi para syuhada dan shiddiqin. Setelah berdialog dan
bercengkerama dengan mereka yang hadir di pertemuan itu, Allah meninggalkan
tempat tersebut dan naik kembali ke ‘Arasy."
Yang
menarik adalah bahwa seluruh penjelasan itu disampaikan oleh pemuka Salafi
tanpa didukung oleh ayat al-Quran maupun hadis Nabi Saw. Semua yang mereka
paparkan tak lebih dari bayangan dan khayalan semata yang muncul di benak Ibnu
Taimiyyah dan para pengikutnya. Dengan melekatkan sifat-sifat jisim kepada
Allah, mereka menurunkan derajat ketuhanan ke level wujud materi layaknya
manusia. Ibnu Juhbul salah seorang ulama Ahlussunnah mengatakan, "Ibnu
Taimiyyah mengklaim bahwa apa yang dikatakannya bersumber dari Allah,
Rasulullah dan para sahabat. Padahal mereka tak pernah mengatakan hal-hal
itu."
Salah
satu pandangan aneh Ibnu Taimiyyah adalah apa yang dikatakannya tentang kiblat.
Kaum Salafi mengatakan, orang tidak boleh meludah ke arah kiblat sebab
perbuatan itu bisa menyakiti Allah karena Allah berada di arah kiblat. Padahal,
kiblat tak lebih dari arah yang menyatukan kaum muslimin dalam shalat, bukan
tempat Allah berada. Allah adalah wujud yang tak berbatas. Dia meliputi semua
tempat.
Menyebut
tempat khusus bagi Allah sama dengan membatasi wujud-Nya yang Maha Luas dan ini
bertentangan dengan akidah Islam yang sebenarnya.
Dalam
beberapa kesempatan Ibnu Taimiyyah mengungkapkan pandangannya tentang Allah Swt
dengan membawakan ungkapan-ungkapan yang tak mengindahkan keagungan dan
kebesaran Allah. Padahal al-Quran telah menyebutkan hakikat sebenarnya dengan
jelas kepada mereka yang berakal dan berpikir. "Tidak ada yang
menyamai-Nya." (Q.S. Aa-Syura : 11)
Ayatullah
Makarim Shirazi, ulama besar dan mufassir dalam kitab tafsirnya mengenai ayat
ini menulis: "Ungkapan ini adalah hakikat yang menjadi dasar utama untuk
mengenal sifat-sifat Allah Swt. Tanpa mengindahkan ayat ini sifat-sifat Allah
tak mungkin bisa difahami. Sebab tebing paling curam dan berbahaya berupa tasybih
(penyamaan Allah dengan makhluk) akan menghadang orang dalam mengenal-Nya.
Orang bisa terjerumus dan jatuh ke dalam jurang kemusyrikan. Dengan kata lain,
Allah Swt adalah wujud yang tak terbatas sementara wujud selain Dia adalah
wujud yang terbatas dari segala sisi. Misalnya, bagi kita sebagian pekerjaan
nampak mudah dan sebagian lainnya sulit sebab kita adalah wujud yang terbatas. Tapi
bagi wujud yang tak terbatas, semua itu tak ada artinya."
Imam
Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah berulang kali menjelaskann
sifat-sifat Allah Swt. Menurut beliau, "Kekuasaan Allah yang tak terbatas
meniscayakan bahwa semua makhluk, yang besar dan kecil, yang berat dan ringan
maupun yang kuat dan lemah, semuanya sama bagi-Nya dalam penciptaan."
Ibnu
Hajar al-Makki dalam kitab al-Fatwa al-Haditsah mengenai Ibnu Taimiyyah
menulis demikian: Allah Swt telah menghinakan, menyesatkan, membutakan dan
membuatnya tuli. Para pemuka Ahlussunnah dan mereka yang hidup sezaman
dengannya baik penganut mazhab Syafi'i, Maliki atau Hanafi menegaskan kesesatan
pemikiran dan kata-katanya. Kata-kata Ibnu Taimiyyah tidak bernilai. Dia
hanyalah pembuat bidah, sesat dan menyesatkan, dan orang yang abnormal. Allah
Swt telah memperlakukannya secara adil dan menjaga kita dari keburukan
keyakinan dan ajarannya." (Sumber: IRIB Indonesia)
1 komentar:
Apakah anda orangnya bijak dan tidak dangkal?
Posting Komentar